10 Oktober 2007

Release : HMI Cab. Tapaktuan

Bupati Aceh Selatan Ingatkan Warga Waspadai Ancaman Banjir Dan longsor


Tapaktuan, 04-Januari-2007. Bupati Aceh Selatan Ir. H T Machsalmina Ali, MM kembali mengingatkan warga di daerah-daerah rawan banjir dan longsor terutama warga yang berdomisili di Daerah Aliran Sungai (DAS) agar mewaspadai ancaman banjir dan longsor terkait datang musim penghujan.
Machsalmina berharap perkiraan cuaca yang dikeluarkan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Sumatera Utara yang memprediksikan curah hujan cukup tinggi akan terjadi pada akhir tahun 2006 atau awal tahun 2007 di pesisir pantai barat selatan Aceh hendaknya dapat meningkatkan kewaspadaan bagi warga yang daerahnya sering terjadi banjir dan tanah longsor.
“Saya berharap warga meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir dan tanah longsor, banjir-banjir yang terjadi beberapa waktu lalu menjadi pelajaran agar terhindar dari kerugian yang lebih besar,” kata Machsalmina, Sabtu di Tapaktuan.
Menurutnya, Kabupaten Aceh Selatan merupakan salah satu kabupaten di pantai barat selatan Aceh yang sering kali dilanda banjir bandang dan tanah longsor, selain diakibatkan perambahan hutan dan illegal logging juga disebabkan topografi dan kondisi geografis wilayah dengan garis pantai terpanjang di bibir Samudera Hindia dan letaknya di kaki pegunungan Bukit Barisan.
Dari data Satkorlak Kabupaten disepanjang tahun 2006, sejak bulan Maret hingga Desember kabupaten yang banyak ditumbuhi tanaman pala itu sudak 6 kali mengalami bencana banjir dan tanah longsor yang mengakibatkan puluhan hancur dan ratusan kepala keluarga harus mengungsi.
Aktivis LSM Aceh TAF Haikal mengatakan prakiraan cuaca yang perkirakan BMG tersebut hendaknya menjadi peringatan sebagai langkah awal untuk mempersiapkan penanganan bila bencana banjir bandang dan longsor terjadi.
“Dengan peringatan dari BMG, pemerintah-pemerintah kabupaten di pesisir pantai barat selatan hendaknya melakukan upaya pencegahan dan bila saat ini tidak dilakukan dipastikan penanganannya akan sangat sulit bila bencana itu datang,” katanya.
Menurutnya bencana banjir yang terjadi di seluruh Nanggroe Aceh Darussalam disebabkan lemahnya penegakkan hukum terhadap pelaku perambahan dan pelaku illegal logging serta terjadinya kesalahan dalam pengelolaan hutan.
Selain akibat pembalakan hutan kedangkalan sungai yang mengaliri daratan aceh juga sudah sangat kritis sehingga arus sungai menjadi berpindah, Dia berharap pemerintah dapat megalokasikan dana untuk program pegerukan dan pelurusan sungai-sungai agar bencana banjir seperti di Aceh Tamiang, Bener Meriah, Gayo Lues dan Aceh Utara tidak terulang lagi di masa yang akan datang.
Sementara itu puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Aceh Selatan turun kejalan-jalan dan pertokoan di pusat kota Tapaktuan menggalang dana untuk membantu korban banjir dan tanah longsor di Aceh Tamiang, Aceh Timur, Gayo Lues dan Bener Meriah.
Ketua HMI Aceh Selatan, Mawardy mengatakan penggalangan dana yang dipusatkan di simpang Kedai Aru, depan poslantas dan pusat pasar tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas mahasiswa Aceh Selatan kepada korban banjir banding dan tanah longsor di kawasan pantai utara dan timur Aceh akhir tahun lalu.(001.as.ip)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Kirimkan Komentar, kesan dan pesan anda untuk memjadi bahan agar situs ini makin baik kedepan...