10 Januari 2008

Bahaya Materialisme



Harta sering menyeret manusia menjadi budak. Apapun akan dilakukan untuk mendapatkan harta meskipun kehormatan harus digadaikan. Seperti pepatah Aceh; “Bak peng gadoh janggot”. Ironisnya itu terjadi pada kita yang banyak harta. Kita disibukkan oleh harta dan merasa selalu tidak berkecukupan, ibarat sedang kehausan ditengah laut. Memenuhi keinginan yang tanpa batas telah menjadi tujuan hidup utama, missal, pornografi, fashion hura hura dan permintaan terhadap barang barang mewah menjadi sumber kesenangan terbesar. Itu pula yang menjadi ukuran prestasi tertinggi dalam hidup.
Menurut Dr. Umer Capra pakar ekonomi Islam, dalam bukunya Islam dan tantangan Ekonomi Global, paham ini disebut materialisme yang segala sesuatu dijelaskan dengan logika materil. Karena itulah kekayaan, kepuasan jasmaniah, dan kesenangan sensasi merupakan satu satunya nilai terbesar bagi manusia. Meterialisme telah menyediakan fondasi bagi kultur komersial/konsumerisme yang dari waktu kewaktu semakin kokoh dan telah berhasil melipatgandakan jumlah keinginan manusia melampaui kemampuan sumberdaya untuk memenuhinya. Dan faham materialisme yang melahirkan prilaku konsumerisme hobi belanja semakin menggejala di Aceh.
Buktinya semakin tingginya permintaan terhadap sepeda motor, mobil dengan merk dan mode yang bergengsi, seperti double cabin (Serambi 16/11/2007 hal. 3). Meningkatnya jumlah mobil dan sepeda motor membuat jalan jalan utama semakin sempit, sehingga hak pejalan kaki sering dirampas. Fenomena konsumerisme juga terlihat saban hari memenuhi pusat pusat perbelanjaan di perkotaan. Ini memang tidak bisa ditarik satu kesimpulan bahwa masyarakat Aceh sudah bebas dari kemiskinan. Lalu apa yang salah dengan fenomena konsumerisme? Prilaku ini terkait dengan pemamfatan harta baik sedikit maupun banyak. Pemahaman kita tentang harta hanya sebatas kesenangan hidup.
Hal ini berdampak pada kesenjangan sosial yang berimplikasi pada disharmonisasi sosial. Seringkali bagi orang kaya baru menjadi berubah sikapnya manakala dia sudah banyak harta. Rumahnya mulai dibangun tembok pagar, sikapnya menjadi acuh pada saudara dan teman., bicaranya sudah angkuh. Seolah olah orang yang datang ke tempat dia mau minta uang. Maka menjadi penting bagi kita memahami bagaimana sebenarnya konsep harta dan cara cara memperoleh harta secara benar? Supaya membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik secara pribadi, masyarakat,bangsa khususnya dunia dan akhirat. Harta merupakan sesuatu yang digandrungi oleh tabiat manusia. Sehingga manusia dalam seluruh aktifitasnya mengumpulkan harta guna memenuhi kebutuhan hidup dan kesenangannya.
Sebagian kita terpaksa atau terjerumus untuk melakukan korupsi, mencuri, menipu, merampok, dan cara cara yang tidak benar untuk memperoleh harta yang kadangkala mendepak dan menzalimi orang lain. Mengenai tabiat manusia terhadap harta Allah berfirman QS: Alkahfi ayat 46, “harta dan anak anak adalah perhiasan kehidupan dunia”. Lebih lanjut Allah menjelaskan; “menjadikan indah menurut pandangan manusia kecintaan kepada apa apa yang diingini, yaitu wanita wanita, anak anak, harta yang banyak dari emas, perak, kuda pilihan, binatang binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah lah tempat kembali yang baik” (QS: Ali Imran ayat: 14).
Hal ini menunjukkan kebutuhan, tabiat atau kesenangan manusia terhadap harta adalah kebutuhan mendasar. Sebagaimana firman Allah; “…dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberi kecukupan”(QS: Adh Dhuha ayat 6). Namun Allah juga telah memperingatkan! Harta disamping sebagai perhiasan, juga berkedudukan sebagai amanat/cobaan/fitnah, sebagaimana firman Nya; “Hai orang orang beriman, sesungguhnya diantara istri istrimu dan anak anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati hatilah kamu terhadap mereka. Sesungguhnya hartamu dan anak anakmu hanyalah cobaan dan disisi Allahlah pahala yang besar” (QS: At Taghabun ayat. 14 15). Dalam hal ini kita sebagai manusia sering lupa bahwa harta itu hakikatnya sebagai titipan. Kelupaan itu pula yang sering menjerumuskan kita pada lembah kehinaan yang menjadi budak harta.
Dalam hal ini Rasul Muhammad saw memperingatkan secara keras dalam hadisnya; “Celakalah orang yang menjadi hamba dinar (uang), orang yang menjadi hamba dirham, orang yang menjadi hamba toga atau pakaian, jika diberi ia bangga, bila tidak diberi, ia marah, mudah mudahan ia celaka dan merasa sakit, jika kena suatu musibah dia tidak akan memperoleh jalan keluar” (HR Bukhari). Dalam hadis lain Rasul mengutuk prilaku konsumerisme pragmatisme “terkutuk orang yang menjadi hamba dinar dan terkutuk pula orang yang menjadi hamba dirham” (HR Turmudzi). Hakikatnya kita tidak ada hak kepemilikan terhadap harta secara mutlak sebagaimana firman Allah swt; “Apa-apa yang ada dilangit dan dibumi adalah milik Allah”(QS: Albaqarah ayat 284). “Dan kepunyaan Allahlah kerajaan di langit, di bumi, dan diantara keduanya, dan kepada Allah lah kembali segala sesuatu”(Al Maidah ayat 18). “Kepunyaan Allahlah dan apa yang ada diantara bumi dan langit dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu” (QS: Albaqarah ayat 120) Sehingga harta yang kita miliki memiliki ada bagian orang lain, seperti zakat harta, qurban, wakaf, shadaqah dan yang lainnya.
Allah mengajarkan “Dan berilah kepada kerabat, orang orang miskin, ibnu sabil (orang yang sedang menuntut ilmu) akan haknya, dan janganlah kamu menghambur hamburkan hartamu secara boros” (QS: Al Isra’ ayat 26). Sejatinya harta menjadi sarana bagi kesuksesan akhirat; “Bukanlah orang baik, yang meninggalkan masalah dunia untuk masalah akhirat, dan meninggalkan akhirat untuk urusan dunia, sehingga seimbang diantara keduanya, karena masalah dunia adalah menyampaikan manusia kepada masalah akhirat”. Bukan sebaliknya menjadi sarana kesengsaraan akhirat sebagaimana firman Nya; “Dan orang orang yang menyimpan emas dan perak dengan tidak menafkahkan pada jalan Allah, maka berilah kabar gembira dengan siksa yang pedih”(QS: At Taubah ayat 34).
Dengan demikian mendapatkan harta juga harus dengan cara cara yang mengarah pada kemakmuran bersama. Tidak dibenarkan menikmati manfaat tapi mendatangkan mudharat bagi orang lain seperti pencurian, perampokan, pencopetan, korupsi, manipulasi, menebang hutan tanpa batas, mengekploitasi alam secara serakah dan lain lain. Allah memperingatkan; ”Janganlah sebagian kamu memakan sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil”(QS: Al Baqarah ayat 188). Ketika harta itu mampu dipahami sebagaimana hakikatnya Allah akan memberi jaminan kehidupan yang harmonis. Keresahan terhadap beberapa fenomena kekianian lebih disebabkan prilaku manusia yang tidak menjalankan dan memamfaatkan harta sesuai fungsinya. Disamping sebagai sarana ibadah, harta juga untuk mengemmbangkan dan menegakkan ilmu, memutarkan peranan kehidupan antara sikaya dan si miskin, menumbuhkan silaturrahim, sehingga harta itu jangan hanya beredar diantara orang orang kaya saja diantara kita (QS: Al Hasyr ayat 7). Wallahualam.

*) Penulis adalah Dosen STAIN Zawiyah Cot Kala Langsa dan Karo Riset & Kajian Yayasan Insan Cita Madani (YICM) Aceh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kirimkan Komentar, kesan dan pesan anda untuk memjadi bahan agar situs ini makin baik kedepan...